Rabu, 16 Juli 2014

Lupa, Kejenuhan dan Kesulitan dalam Belajar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditujukan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang berkategori “di luar rata-rata” (sangat pintar dan sangat bodoh) itu tidak mendapatkan kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini maka timbullah apa yang disebut kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Selain itu kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan. B. Rumusan Masalah 1. Jelaskan pengertian dari lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar! 2. Sebutkan faktor-faktor penyebab lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar! 3. Sebutkan gejala-gejala kesulitan dalam belajar! 4. Cara apa saja untuk mengatasi lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar? C. Tujuan 1. Menjelaskan Pengertian lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar. 2. Menyebutkan faktor-faktor penyebab lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar. 3. Mengetahui gajala-gejala kesulitan dalam belajar. 4. Mengetahui cara apa saja untuk mengatasi lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar. BAB II PEMBAHASAN A. Lupa dalam Belajar 1. Pengertian Lupa dalam Belajar Lupa ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Rebber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal dan mengingat sesuatu yang telah dipelajari atau dialami. Dengan demikian, lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita. Orang lebih cenderung untuk menerima bahwa lupa itu tergantung kepada: a. Apa yang diamati, b. Bagaimana situasi dan proses pengamatan itu berlangsung dan, c. Bagaimana situasi ketika berlangsungnya ingatan itu. 2. Faktor-faktor Penyebab Lupa dalam Belajar a. Apa yang dialami itu tidak pernah digunakan lagi, atau tidak pernah dilatih/diingat lagi. b. Adanya hambatan-hambatan yang terjadi karena gejala-gejala/isi jiwa yang lain. c. Selalu mengalami tekanan-tekanan atau depresi. d. Adanya konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. e. Adanya perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat. f. Adanya perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar. g. Adanya perubahan urat syaraf otak. 3. Cara Mengatasi Lupa dalam Belajar a. Overlearning Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi tertentu. Overleaning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respons tersebut dengan cara diluar kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain pembacaan teks Pancasila pada setiap hari Senin dan Sabtu memungkinkan ingatan siswa terhadap materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) lebih kuat. b. Ekstra study time Ekstra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajaran atau penambahan frekunsi aktifitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti siswa menambah jam belajar, misalnya dari satu jam menjadi satu setengah jam. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa menambahkan kekerapan materi belajar tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua hari sehari. Kiat ini dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan. c. Mnemonic device Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga disebut mne-monic itu berarti kiat khusus yang dijadikan ‘’alat pengait’’ mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa. Muslihat mnemonik ini banyak ragamnya, tetapi yang paling menonjol adalah sebagaimana terurai di bawah ini. • Rima • Singkatan • Sistem Kata Pasak (Peg Word System) • Metode losai (Method of Loci) • Sistem Kata Kunci (Key Word System) B. Kejenuhan dalam Belajar 1. Pengertian Kejenuhan dalam Belajar Secara harfiah, arti kejenuhan ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga berarti jemu atau bosan. Dalam belajar, selain siswa sering mengalami kelupaan, ia sering juga mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar yang dalam psikologi lazim disebut learning plateau atau plateau saja. Peristiwa jenuh ini kalau dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar (kejenuhan belajar) dapat membuat siswa tersebut merasa telah membubadzirkan usahanya. Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil. Seorang siswa yang megalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dengan rentang waktu yang tertentu saja, misalnya seminggu. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu yang membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam satu periode belajar tertentu. Sehingga siswa yang dalam keadaan jenuh tidak akan bisa menerima pelajaran dengan maksimal. 2. Faktor-faktor Penyebab Kejenuhan dalam Belajar Pada umumnya penyebab kejenuhan adalah kelelahan yang melanda siswa, sehingga menyebabkan munculnya perasaan bosan pada siswa yang bersangkutan. Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani (fisik) termasuk kelelahan indera juga dan kelelahan rohani (psikis). a. Kelelahan Jasmani (Fisik) Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak/kurang lancar pada bagian tertentu. b. Kelelahan Rohani Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuhan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah otak kehabisan daya untuk bekerja. Kelelahan rohani dapat terjadi terus menerus memikirkan masalah yang dianggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu sama/konstan tanpa ada variasi, dan mengerjakan sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatiannya serta berada di tengah-tengah situasi kompetitif yang ketat dan menuntut lebih banyak kerja intelek yang berat. 3. Cara Mengatasi Kejenuhan dalam Belajar a. Tidur, b. Istirahat, c. Membuat variasi baru dalam belajar, d. Rekreasi, e. Mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, f. Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya, g. Siswa harus berbuat nyata (tidak menyerah/tinggal diam) dengan mencoba belar dan belajar lagi, dan h. Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif. C. Kesulitan dalam Belajar 1. Pengertian Kesulitan dalam Belajar Menurut Drs. H. M. Alisuf Sabri (2010:88), kesulitan belajar diartikan sebagai kesukaran siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran di sekolah. Jadi kesulitan belajar yang dihadapi siswa ini terjadi pada waktu mengikuti pelajaran yang disampaikan atau ditugaskan oleh guru. Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya: a. Learning Disorder (kekacauan belajar) adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. b. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indera, atau gangguan psikologis lainnya. c. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. d. Slow Learner (lambat belajar) adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. e. Learning Disabilities (ketidakmampuan belajar) mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. 2. Gejala-gejala Kesulitan dalam Belajar Gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk. Ia dapat muncul dalam bentuk perilaku yang menyimpang atau menurunnya hasil belajar. Perilaku yang menyimpang juga muncul dalam berbagai bentuk seperti: kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, suka mengganggu teman, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, hiperaktif, sering membolos. Meskipun perilaku menyimpang dapat merupakan indikasi adanya kesulitan belajar, namun tidak semua perilaku menyimpang dapat disamakan dengan munculnya kesulitan belajar. Menurunnya hasil belajar merupakan gejala kesulitan belajar yang paling jelas. Menurunnya hasil belajar ini dapat dilihat dari rendahnya hasil latihan, tugas rumah serta ulangan yang ditandai dengan diperolehnya nilai-nilai yang rendah. Nilai-nilai rendah yang dicapai siswa inilah yang dapat dijadikan indikator yang kuat tentang adanya kesulitan belajar yang dihadapi siswa. 3. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan dalam Belajar a. Faktor Intern Siswa Yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri. Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, diantaranya: • Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa; • Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap; • Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga). b. Faktor Ekstern Siswa Yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa, diantaranya: • Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga. • Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh, dan teman sepermainan yang nakal. • Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah. Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada juga faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar pada siswa, yaitu faktor khusus seperti sindrom psikologis berupa “learning disability” (ketidakmampuan belajar). Sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu. a. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca. b. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis. c. Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika. Akan tetapi, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask, 1985: Reber, 1988). 4. Cara Mengatasi Kesulitan dalam Belajar Usaha untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa harus dilakukan dengan mengadakan diagnosis dan remedies yaitu melalui proses pemeriksaan terhadap gejala kesulitan belajar yang terjadi dan diakhiri dengan mengadakan remedies atau perbaikan sehingga masalah kesulitan belajar siswa benar-benar dapat diatasi. Pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar tersebut harus berlangsung secara sistematis dan terarah melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. Mengidentifikasi Adanya Kesulitan Belajar Pada langkah pertama ini guru harus melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Menetapkan untuk memastikan adanya kesulitan belajar tersebut tidak boleh berdasarkan naluri belaka, tetapi harus berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman. Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai “diagnostik” kesulitan belajar. Banyak langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener&Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut: • Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran. • Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar. • Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar. • Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa. • Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar. b. Menelaah/Menetapkan Status Siswa Pada langkah kedua ini guru akan menelaah/memeriksa setiap siswa yang mengalami kesulitan belajar, tujuannya adalah untuk menetapkan jenis atau bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh setiap siswa. Untuk memastikan jenis atau bentuk kesulitan masing-masing siswa dapat dilakukan dengan dua cara: • Dengan membandingkan hasil pencapaian/penguasaan TIK (Tujuan Instruksional Khusus) hasil belajar siswa dengan TIK yang ditargetkan untuk dicapai oleh siswa. Dengan cara ini dapat ditetapkan bagian-bagian mana atau hal-hal apa saja dari konsep atau materi pelajaran yang disampaikan guru yang sulit dikuasai oleh masing-masing siswa. • Dengan menetapkan bentuk kesulitan mereka dalam proses belajarnya; apakah sumber kesulitan tersebut terjadi pada waktu menerima atau pada waktu menyerap pelajaran. c. Memperhatikan Sebab Terjadinya Kesulitan Pada tahap ketiga ini, guru harus berupaya untuk memperkirakan sebab timbulnya kesulitan belajar tersebut, yaitu dengan menggunakan alat diagnostik kesulitan belajar. Alat tersebut dapat berupa tes diagnostik dan tes-tes untuk mengukur kemampuan intelegensi, kemampuan mengingat, kemampuan alat indera dan sebagainya yang erat kaitannya dengan proses belajar. Berdasarkan informasi dari hasil tes tersebut dapat ditetapkan penebab kesulitan belajar, apakah karena alat inderanya kurang baik; ingatannya lemah; kecerdasannya kurang; kuranmg matang untuk belajar karena kurang menguasai konsep dasar yang dipelajari; kurang motivasi dan sebagainya. d. Mengadakan Perbaikan Pada tahap keempat ini, guru dapat bertindak untuk mengadakan perbaikan guna mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Strategi pelaksanaan yang ditempuh guru dalam mengadakan perbaikan ini harus dilakukan melalui pendekatan psikologi didaktis, yaitu, Pertama, siswa yang akan diperbaiki sudah menyadari faktor kesulitan/kekurangan mereka. Kedua, mereka yakin kesulitan/kekurangan mereka dapat mereka atasi. Ketiga, siswa dibimbing untuk mengadakan perbaikan sesuai dengan sebab dan kondisi kesulitan yang mereka alami. BAB III PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran sering terjadi berbagai gejala. Diantaranya lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar yang telah dijelaskan secara terperinci diatas.Untuk itu sangatlah penting bagi para pengajar memperhatikan hal-hal tersebut. Dan dalam semua hal tersebut tentu akan dapat ditangani menggunakan solusi-solusi yang telah dijelaskan. Para pengajar harus mampu memahami keadaan siswa, agar tercapainya tujuan dari pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Purwanto, M. Ngalim, Drs., Psikologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta. Karina-arie.blogspot.com/2012/05/psikologi-pendidikan.html Mnurussobach.blogspot.com/2012/06/mengatasi-kejenuhan-dalam-belajar.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar