Rabu, 16 Juli 2014

Makna IPTEK dan Seni Bagi Manusia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama perjalanan sejarah, umat manusia telah berhasil menciptakan berbagai ragam kebudayaan. Namun apabila kita ringkas, berbagai, macam atau ragam kebudayaan tersebut sebenarnya hanya meliputi tujuh buah atau tujuh unsur kebudayaan saja. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut merupakan unsur-unsur pokok yang selalu ada pada setiap kebudayaan masyarakat yang ada di belahan dunia ini. Menurut KLUCHKHON sebagaimana di kutip KOENTJARANINGRAT (1996), bahwa ketujuh unsur pokok kebudayaan tersebut meliputi peralatan hidup (teknologi), sistem mata pencaharian hidup (ekonomi), sistem kemasyarakatan (organisasi sosial), sistem bahasa, kesenian (seni), sistem pengetahuan (ilmu pengetahuan /sains), serta sistem kepercayaan (religi). Ilmu pengetahuan (sains), peralatan hidup (teknologi), serta kesenian (seni), atau yang sering kali di singkat IPTEK, termasuk bagian dari unsur-unsur pokok dari kebudayaan universal tersebut. Salah satu fungsi utama ilmu pengetahuan tersebut dan teknologi adalah untuk sarana bagi kehidupan manusia, yakni untuk membantu manusia agar aktivitas kehidupanya menjadi lebih mudah, lancar, efisien, dan efektif, sehingga kehidupanya menjadi lebih bermakna dan produktif. Pengetahuan merupakan pengalaman yang bermakna dalam diri tiap orang yang tumbuh sejak di lahirkan. Oleh karena itu manusia yang normal, sekolah atau tidak sekolah, sudah pasti di anggap memiliki pengetahuan. Pengetahuan dapat di kembangkan manusia karena dua hal, Pertama, manusia mempunyai bahasa yang dapat mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Kedua, manusia mempunyai pikiran menurut suatu alur pikir tertentu yang merupakan kemampuan menalar. Ilmu itu sendiri secara garis besar dapat di kelompokan menjadi dua buah golongan besar, yakni ilmu eksak dan non eksak, atau ilmu pengetahuan alam ( IPA ) serta ilmu pengetahuan sosial (IPS ). Ilmu sesungguhnya merupakan pengetahuan yang sudah mencapai taraf tertentu yang telah memenuhi sistematika, memiliki objek kajian, dan metode pembahasan akan kajian tersebut. Ilmu dapat di artikan sebagai pengetahuanyang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, di mana pengetahuan tersebut selalu dapat di control oleh setiap orang yang ingin mengetahuainya. Seiring dengan perkembangan sains, teknologi dan seni diharapkan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap bidang-bidang lain, khususnya budaya yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Pemanfaatan kemajuan sains, teknologi, dan seni secara baik haruslah diterapkan, sehingga dapat menjaga kelestarian budaya bangsa. B. Perumusan Masalah 1. Apa Pengertian dari Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni? 2. Apa Makna dari Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni? 3. Bagaimana Perananan Manusia terhadap IPTEK dan Seni? 4. Bagaimana Dampak dari IPTEK dan Seni bagi Manusia? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk Memahami Pengertian Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni. 2. Untuk Mengetahui Makna dari IPTEK dan Seni bagi Manusia. 3. Untuk Mengetahui Peranan Manusia terhadap IPTEK dan Seni. 4. Untuk Mengetahui Dampak IPTEK dan Seni bagi Manusia. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan atau sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Ada beberapa Pengertian Sains menurut para ahli diiantaranya: 1. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. 2. Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. 3. Ralf Ross dan Ernest Van De Haag, mengemukakan Sains adalah yang empirik, yang rasional, yang umum dan bertimbun-susun dan keempat-empatnya serentak. 4. Mohammad Hatta, mengemukakan Sains adalah pengetahuan yang teratur hasil pekerjaan sebab-musabab dalam satu giolongan yang sama tabiatnya maupun kedudukannya, yang Nampak dari luar maupun dari dalam. 5. Karl Pearson (1857-1936), mengemukakan Sains adalah lukisan atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang pengalaman dengan istilah yang sederhana sesedikit mungkin. 6. Herbert L Searles, mengemukakan Sains adalah pengetahuan yang tepat, disahkan secara paling cermat dan paling umum yang diperoleh dari manusia. 7. Shahrir Mohd Zain, mengemukakan Sains berupa analisis fenomena secara bersistem, logic dan objektif khusus yang diperantikan (alat) untuk mewujudkan pengetahuan yang boleh dipercayai. 8. Medawar (1984), sains (dari istilah Inggris Science) berasal dari katasienz, ciens, cience, syence, scyense, sciens, scians. Sains adalah aktifias pemecahan masalah yang dilakukan oleh manusia yang dimotivasikan oleh rasaingin tahu tentang dunia sekitar mereka dan keinginan. untuk memahami alamtersebut, serta keingian memanipulasi alam dalam rangka meluaskan keinginanatau kebutuhannya. Berdasarkan Webster New Collegiate Dictionary definisi dari Sains adalah “pengetahuan diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian” atau “pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Sains dalam hal ini merujuk pada sebuah sistem untuk mendapat pengetahuan dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di alam. Sedangkan menurut Ensiklopedia Indonesia Sains ialah suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai bidang pengalaman tertentudisusun demikian rupa menurut asas-asas tertentu hingga menjadikesatuan, suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masingdidapatkan sebagai hasil pemeriksaan yang dilakukan secara teliti denganmenggunakan kaedah tertentu.Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam semesta secarasistematis, dan bukan hanya pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas. Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni. B. Pengertian Teknologi Istilah teknologi berasal dari kata techne dan logia. Kata kuno techne berarti seni kerajinan. Dari techne kemudian lahirlah perkataan technikos yang berarti seseorang yang memiliki keterampilan tertentu. Dengan berkembangnya keterampilan seseorang yang menjadi semakin tetap karena menunjukkan suatu pola, langkah, dan motode yang pasti, keterampilan itu lalu menjadi teknik. Sampai pada permulaan abad XX, istilah teknologi telah dipakai secara umum dan merangkum suatu rangkaian sarana, proses, dan ide disamping alat-alat dan mesin-mesin. Perluasan arti ini berjalan terus sehingga sampai pertengahan abad ini muncul perumusan teknologi sebagai sarana atau aktivitas yang dengannya manusia berusaha mengubah atau menangani lingkungannya. Ini merupakan suatu pengertian yang sangat luas karena setiap sarana perlengkapan maupun kultural tergolong suatu teknologi. Teknologi tidak dapat hanya dipahami sebagai benda-benda konkret saja,seperti mesin, alat, perkakas dan lain sebagainya. Seperti terlihat dari awal katanya, teknologi adalah sebuah ilmu, yaitu ilmu untuk membuat suatu alat, perkakas, mesin atau bentuk-bentuk konkret lainnya (sebagai penerapan kaidah dan prinsip- prinsip ilmu pengetahuan) untuk memudahkan aktivitas atau pekerjaan manusia. Dengan demikian, teknologi itu, mempunyai empat komponen utama, yaitu: 1. Pengetahuan, yaitu seperangkat gagasan bagaimana mengerjakan sesuatu. 2. Tujuan, untuk apa “sesuatu” tersebut digunakan. 3. Aktivitasnya harus terpola dan terorganisasi. 4. Lingkungan pendukungagar aktivitas itu dapat berjalan efektif. Beberapa definisi yang sifatnya formal menyebutkan bahwa, teknologi adalah hasil dari pengetahuan ilmiah yang teroganisir dan diaplikasikan secarasistematis ke dalam hal - hal yang bersifat praktis. Secara eksplisit, teknologi dianalogikan sebagai ’hardware’, dimana manusia sebagai pengguna dan teknologi sebagai alat yang digunakan. Namun, selanjutnya perkembangan di bidang teknologi menyebutkan bahwa teknologi lebih dari hanya sekedar ’hardware’. Teknologi merupakan ’liveware’ karena organisme – organism hidup setidaknya bergantung pada teknologi .Teknologi dianggap sebagai penerapan ilmu pengetahuan dalam pengertian bahwa penerapan itu menuju pada perbuatan atau perwujudan sesuatu. Kecenderungan ini pun mempunyai suatu akibat dimana kalau teknologi dianggap sebagai penerapan ilmu pengetahuan, dalam perwujudan tersebut maka dengan sendirinya setiap jenis teknologi/ bagian ilmu pengetahuan dapat ada tanpa berpasangan dengan ilmu pengetahuan dan pengetahuan tentang teknologi perlu disertai oleh pengetahuan akan ilmu pengetahuan yang menjadi pasangannya. Adapun tiga macam teknologi yang sering dikemukakan oleh para ahli,yaitu: 1. Teknologi tradisional, ciri-ciri teknologi tradisional, antara lain: bersifat padat karya (banyak menyerap tenaga kerja), menggunakan keterampilan setempat, menggunakan alat setempat,menggunakan bahan setempat, berdasarkan kebiasaan atau pengamatan. 2. Teknologi madya, ciri-ciri teknologi madya, antara lain: padat karya, dapat dikerjakan oleh keterampilan setempat, menggunakan alat setempat, berdasarkan alat penelitian. 3. Teknologi modern, ciri-ciri teknologi modern, antara lain: padat modal, mekanis elektris, menggunakan bahan impor, dan berdasarkan penelitian mutkhir. Dari segi penggunaannya, teknologi ada yang bersifat individual dan ada pula teknologi yang bersifat kolektif. Tipe teknologi individual dapat kita jumpai pada obeng, tang dan sepeda. Prinsip dimana tipe teknologi ini adalah sebagai alat atau kepanjangan tangan manusia. Tangan kita, jelas sulit untuk mencabut paku atau menancapkan mur. Karena itu dibuatlah obeng dan tang untuk memudahkan pekerjaan. Demikian pula sepeda adalah alat untuk mempercepat perjalanan kita. Sedangkan teknologi yang bersifat kolektif adalah teknologi yang dalam penggunaannya harus dilakukan secara bersama-sama. Televisi, baru bisa kitanikmati setelah dikelola secara kolektif. Ada acara yang disajikan. Harus ada stasiun televisi yang menyiarkan acara tersebut Penyusunan acara dan penyiarana cara televisi tersebut oleh stasiun televisi sudah tentu melibatkan banyak orang. Teknologi yang bersifat kolektif ini juga dapat dijumpai pada pabrik- pabrik yang menghasilkan satu barang. Dalam proses pembuatan mobil misalnya, secanggih apa pun sebuah teknologi yang dipergunakan harus melibatkan banyak orang. Ada sebagian orang yang memasang bagian tertentu dan sebagian lainnya mengecat; sementara yang lain melakukan finishing. Dengan kata lain, dalam proses teknologi yang bersifat kolektif tersebut terkait erat dengan soal manajemen atau suatu sistem produksi. Demikianlah teknologi adalah segenap keterampilan manusiamenggunakan sumber-sumber daya alam untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan. Secara lebih umum dapat dikatakan bahwa teknologi merupakan suatu system penggunaan berbagai sarana yang tersediauntuk mencapai tujuan-tujuan praktis yang ditentukan. Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri. Sebagian beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. namun, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri. Jadi, teknologi merupakan perkembangan suatu media / alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah. C. Pengertian Seni Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta). Cabang-cabang Seni ada 5 yaitu : 1. Seni Rupa Seni rupa adlah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengelolah konsep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. 2. Seni Tari/gerak Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan ditempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud dan pikiran. 3. Seni Musik Musik adalah suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan. 4. Seni Sastra Sastra (Sanskerta: Shastra) merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung intruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “intruksi” atau “ajaran”. Dalam Bahasa Indonesia kata ini bisa digunakan untuk merujuk kepada “Kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang mempunyai arti atau keindahan tertentu. 5. Seni Teater/drama Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas dengan media yaitu, percakapan, gerak dan laku yang didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb. D. Makna IPTEK dan Seni bagi Manusia 1. Makna IPTEK bagi Manusia a. Perkembangan Teknologi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendatangkan kemakmuran materi. Dengan menggunakan cabang-cabang ilmu pengetahuan, akan memperoleh hasil. b. IPTEK dan Nilai Perkembangan IPTEK bergerak cepat, sehingga perlu ditanggapi dan dipersiapkan dalam menghadapinya sesuai kebutuhan pembangunan. Teknologi dapat membawa bencana, sebaliknya juga telah terbukti bahwa bagi mereka yang memanfaatkannya, teknologi tersebut dapat menolong mereka dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Dengan adanya IPTEK diharapkan dapat memuliakan hidup manusia, bukan untuk memusnakan manusia. c. Manusia sebagai Subjek dan Objek IPTEK Dengan adanya kemajuan teknologi manusia dapat menciptakan perlengkapan yang canggih untuk berbagai kegiatan sehingga dalam kehidupannya tersedia berbagai kemudahan. Dengan adanya IPTEK timbulah berbagai industry yang hasilnya dapat bermanfaat dalam berbagai bindang antara lain: 1. Bidang Pertanian, Pertenakan dan Perikanan. 2. Bidang Kedokteran dan Kesehatan. 3. Bidang Telekomunikasi. 4. Bidang Pertahanan dan Keamanan. 2. Makna Seni bagi Manusia a. Seni dapat menciptakan kerinduan akan hidup yang abadi, karena tujuan utama dari seni adalah hidup itu sendiri. Seni dianggap sebagai saran yang penting bagi prestasi kehidupan sehingga ia harus memelihara ladang kehidupan agar tetap hijau dan memberikan petunjuk bagi manusia. b. Seni bisa memberikan dorongan dan asupan serta mampu memompa ras keberanian dan kejantanan bagi orang-orang dan memberikan semangat kepada setiap manusia serta menciptakan kerinduan akan tujan hidup yang baru dan ideal (inspiratif). Seni memiliki daya magis yang dimanfaatkan untuk menciptakan pribadi manusia yang baik. Contohnya adalah musik, musik dapat menimbulkan semangat juang dan mendorong keberanian serta mengilhami perbuatan yang gagah berani, atau membuat manusia berperilaku sederhana, teratur, adil dan menghormati Tuhan Yang Maha Kuasa. c. Seni mampu membuat kemajuan sosial, Seniman dapat dianggap sebagai orang agung dan menjadi panutan. Menurut Muhammad Iqbal, seorang seniman mampu meninggikan derajat suatu bangsa dan mengantarkannya ke arah kebesaran demi mencapai kebesaran yang lebih tinggi lagi. Apalah arti suatu karya seni jika tidak dapat membangkitkan badai emosional dalam masyarakat?. d. Seni sebagai kebutuhan hidup, dalam hal ini diterangkan bahwa seni itu digunakan untuk tujuan dan maksud tertentu terhadap benda atau ide, menurut kegunaannya, tetapi tidak melepaskan segi keindahannya. Disamping memiliki keindahan wujud, seni juga memiliki kegunaan dari wujud itu sendiri. Misalnya guci dari Tiongkok Kuno, wujud serta permukaannya dibentuk dan dihias sedemikian indah, tanpa menghilangkan fungsi guci itu. E. Perananan Manusia terhadap IPTEK dan Seni Perkembangan sejarah manusia selalu diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melingkupinya. Hal ini tentunya berbanding lurus dengan upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dan teknologi adalah sarana yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Secara definitif, ilmu adalah pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Maka, patutlah dikatakan, bahwa peradaban manusia sangat bergantung kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini, pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah (Jujun, 2003). Secara lebih spesifik, Eugene Staley menegaskan bahwa teknologi adalah sebuah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani (Siti, 2001). Pada tahap selanjutnya, seiring dengan perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan turunannya yang berbentuk teknologi ini, meluas bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia secara sempit. Pemanfaatan teknologi meluas pada upaya penghapusan kemiskinan, penghapusan jam kerja yang berlebihan, penciptaan kesempatan untuk hidup lebih lama dengan perbaikan kualitas kesehatan manusia, membantu upaya-upaya pengurangan kejahatan, peningkatan kualitas pendidikan, dan sebagainya (Sonny dkk., 2001). Bahkan secara lebih komprehensif, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan pemerintah dalam menunjang pembangunannya. Misalnya dalam perencanaan dan programing pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan sumber-sumber insani, dan teknik pembangunan dalam sektor pertanian, industri, dan kesehatan. Puncaknya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Bendungan, kalkulator, mesin cuci, kompor gas, kulkas, OHP, slide, TV, tape recorder, telephon, komputer, satelit, pesawat terbang, merupakan produk-produk teknologi yang, bukan saja membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi membuat hidup manusia semakin mudah (Ibnu, 1998). Manfaat-manfaat inilah yang mula-mula menjadi tujuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan hingga menghasilkan teknologi. Mulai dari teknologi manusia purba yang paling sederhana berupa kapak dan alat-alat sederhana lainnya. Sampai teknologi modern saat ini, yang perkembangannya jauh lebih pesat dari perkembangan teknologi sebelumnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini sanggup membawa berkah bagi umat manusia berupa kemudahan-kemudahan hidup, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan dalam benak manusia. Bagaimana dengan seni? Seni merupakan suatu keahlian untuk mengekspresikan ide-ide atau gagasan estetika dalam bentuk karya yang dapat mengungkapkan perasaan manusia. Ide-ide atau gagasan estetika dalam bentuk karya yang dapat mengungkapkan perasaan manusia. Ide-ide atau gagasan estetika tersebut memiliki kebudayaan sesuai dengan perkembangan zamannya. Seni Budaya sebagai suatu ilmu memberikan kesempatan kepada orang untuk mengekspresikan gagasan berkreasi seni serta mengapresiasikan seni dengan cara mengilustrasikan pengalaman pribadi, menggali/mengeksploitasi rasa dan melakukan pengamatan proses. Hidup akan menjadi indah dengan Seni. Itulah penggalan kata bijak yang biasa diungkapkan. Sebenarnya manfaat seni yang berbudaya tidak hanya menjadikan hidup lebih indah, tetapi banyak manfaat lain yang bisa diperoleh. Melalui seni yang berbudaya setiap orang dapat mengembangkan kemampuan untuk mengekspresikan diri dengan berbagai cara dan media, sehingga terciptalah karya kreativitas yang beradab. Selain itu dengan menguasai Seni Budaya setiap orang dapat mengembangkan sikap toleransi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk serta mengembangkan kemampuan imajinatif intelektual, ekspresi, kepekaan rasa, dan ketrampilan guna menerapkan teknologi dalam berkreasi dan memamerkan hasil karya seninya. Keseimbangan antara Teknologi Sains dan seni sangat diperlukan karena: • Menjaga kemampuan keseimbangan antara otak kiri dan kanan (seni). • Dengan menguasai Seni Budaya setiap orang dapat mengembangkan sikap toleransi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk serta mengembangkan kemampuan imajinatif intelektual, ekspresi, kepekaan rasa, dan ketrampilan guna menerapkan teknologi dalam berkreasi dan memamerkan hasil karya seninya. • Seni merupakan unsur penting untuk melengkapi produk Sains dan Teknologi, sebagai contoh: Dalam menulis suatu karya sastra (puisi, cerita, artikel dsb) akan dipandang sebelah mata jika tidak menggunakan seni (pemilihan kata yang bagus, pengungkapan, gaya bahasa dsb) karena sekilas sudah dianggap tidak menarik. F. Dampak dari IPTEK dan Seni bagi Manusia Pada hakekatnya manusia secara kodrati bersifat sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Dikatakan sebagai makhluk individu karena setiap manusia berbeda-beda dengan manusia yang lain dalam hal kepribadian, pola pikir, kelebihan, kekurangan dan kreatifitas untuk mencapai cita-cita. Sehingga sebagai pribadi-pribadi yang khas tersebut manusia berusaha mengeluarkan segala potensi yang ada pada dirinya dengan cara menciptakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa bantuan orang lain. Potensi-potensi manusia sebagai makhluk individu dapat dituangkan dalam sebuah karya seni, sains, dan teknologi. Baik sains, teknologi maupun seni dan hasil produknya dapat dirasakan disetiap aspek kehidupan manusia dan budayanya. Sehingga dampak sains, teknologi, seni bagi manusia dan budaya dalam masyarakat dapat berdampak baik secara positif maupun secara negatif, diantaranya: 1. Dampak Positif • Meningkatkan kesejahteraan hidup manusia (secara individu maupun kelompok) terhadap perkembangan ekonomi, politik, militer, dan pemikiran-pemikiran dalam bidang sosial budaya. • Pemanfaatan sains, teknologi, dan seni secara tepat dapat lebih mempermudah proses pemecahan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia. • Sains, teknologi dan seni dapat memberikan suatu inspirasi tentang perkembangan suatu kebudayaan yang ada. 2. Dampak Negatif Selain untuk memberikan pengaruh positif sains, teknologi dan seni juga dapat memberikan pengaruh yang negatif bagi perubahan peradaban manusia dan budaya terutama bagi generasi muda. Selain itu sains, teknologi dan seni telah melunturkan nilai-nilai luhur kepribadian bangsa dan tata krama sosial yang selama ini menjadi ciri khas dan kebanggaan. Serta yang terakhir pemanfaatan dari sains, teknologi, dan seni sering kali menimbulkan masalah baru dalam kehidupan manusia terutama dalam hal kerusakan lingkungan, mental dan budaya bangsa, seperti: • Menipisnya lapisan ozon. • Terjadi polusi udara, air dan tanah. • Terjadi pemanasan global. • Rusaknya ekosistem laut. • Pergaulan dan seks bebas. • Penyakit moral. Oleh karena itu agar sains, teknologi dan seni dapat memberikan pengaruh yang positif bagi manusia dan budaya, maka sains, teknologi dan seni seharusnya mampu mengkolaborasikan antara nilai-nilai empiris dengan nilai-nilai moral dan menyesuaikan dengan nilai-nilai religius, keagamaan, dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Makna IPTEK bagi Manusia a. Perkembangan Teknologi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendatangkan kemakmuran materi. b. IPTEK dan Nilai Dengan adanya IPTEK diharapkan dapat memuliakan hidup manusia, bukan untuk memusnakan manusia. c. Manusia sebagai Subjek dan Objek IPTEK Dengan adanya kemajuan teknologi manusia dapat menciptakan perlengkapan yang canggih untuk berbagai kegiatan sehingga dalam kehidupannya tersedia berbagai kemudahan. Dengan adanya IPTEK timbulah berbagai industri yang hasilnya dapat bermanfaat dalam berbagai bindang antara lain: 5. Bidang Pertanian, Pertenakan dan Perikanan. 6. Bidang Kedokteran dan Kesehatan. 7. Bidang Telekomunikasi. 8. Bidang Pertahanan dan Keamanan. 2. Makna Seni bagi Manusia a. Seni dapat menciptakan kerinduan akan hidup yang abadi, karena tujuan utama dari seni adalah hidup itu sendiri. b. Seni bisa memberikan dorongan dan asupan serta mampu memompa ras keberanian dan kejantanan bagi orang-orang dan memberikan semangat kepada setiap manusia serta menciptakan kerinduan akan tujan hidup yang baru dan ideal (inspiratif). c. Seni mampu membuat kemajuan sosial. d. Seni sebagai kebutuhan hidup, dalam hal ini diterangkan bahwa seni itu digunakan untuk tujuan dan maksud tertentu terhadap benda atau ide, menurut kegunaannya, tetapi tidak melepaskan segi keindahannya. B. Saran Sebaiknya umat manusia tidak hanya mendalami pengetahuannya tentang sains, teknologi dan seni saja, tetapi juga harus mendalami nilai-nilai religius, keagamaan untuk menetralisir pengaruh buruk dari sains, teknologi, dan seni untuk mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik lagi. Meskipun teknologi itu diciptakan untuk kepentingan bersama dan untuk memudahkan masyarakat dalam beraktivitas, akan tetapi tetap saja ada efek samping negatif seperti yang telah dipaparkan di atas. Semua itu kembali kepada individu yang menjalani, bagaimana ia memanfaatkan dan akan digunakan untuk apa teknologi tersebut. DAFTAR PUSTAKA Aini-nisa.blogspot.com/2012/01/makna-sainsteknologi-dan-seni-bagi.html?m=1 id.m.wikipedia.org/wiki/Musik id.m.wikipedia.org/wiki/Seni_rupa id.m.wikipedia.org/wiki/Tari id.m.wikipedia.org/wiki/Teater Manshurzikri.wordpress.com/2010/05/12/pentingnya-seni-dalam-kehidupan-manusia-sebagai-makhluk-berbudaya/

Landasan dan Asas-Asas Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan Ilmu dan teknologi, terutama teknologi informasi menyebabkan arus komunikasi menjadi cepat dan tanpa batas. Hal ini berdampak langsung pada bidang Norma kehidupan dan ekonomi, seperti tersingkirnya tenaga kerja yang kurang berpendidikan dan kurang trampil, terkikisnya budaya lokal karena cepatnya arus informasi dan budaya global. Adanya pasar bebas, kemampuan bersaing, penguasaan pengetahuan dan teknologi, menjadi semakin penting untuk kemajuan suatu bangsa. Ukuran kesejahteraan suatu bangsa telah bergeser dari modal fisik atau sumber daya alam ke modal intelektual, pengetahuan, sosial, dan kepercayaan. Hal ini membutuhkan pendidikan yang memberikan kecakapan hidup (Life Skill), yaitu yang memberikan keterampilan, kemahiran, dan keahlian dengan kompetensi tinggi pada peserta didik sehingga selalu mampu bertahan dalam suasana yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif dalam kehidupannya. Landasan dan asas sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Makalah ini akan memusatkan paparan dalam berbagai landasan dan asas pendidikan, serta beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya. 1.2 Perumusan Masalah 1. Landasan-landasan apa saja yang mempengaruhi pendidikan? 2. Asas-asas apa saja yang mempengaruhi pendididikan? 3. Bagaimana penerapan dari landasan-landasan dan asas-asas pendidikan? 1.3 Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui macam-macam Landasan Pendidikan. 2. Untuk mengetahui macam-macam Asas-asas Pendidikan. 3. Untuk mengetahui penerapan dari Landasan-landasan dan asas-asas Pendidikan. BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 Landasan Pendidikan 2.1.1 Landasan Filosofis Pendidikan Filsafat pendidikan pada esensinya merupakan “filosofi proses pendidikan” atau “filosofi disiplin ilmu pendidikan”. Pemikiran filosofis di bidang pendidikan merujuk pada dimensi tujuan, bentuk, metode, atau hasil dari proses pendidikan itu. Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini adalah Perenialisme, Idealisme, Realisme, Esensialisme Pragmatisme dan Progesivisme serta Eksistensialisme. 1. Peneralisme Filsafat perenialisme didasarkan pada pandangan bahwa realitas fundamental tetap berasal dari kebenaran, khususnya berkaitan dengan Tuhan dan kebenaran ajaran-Nya. Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan universal. Dinamakan perenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan atau perennial. 2. Idealisme Filsafat idealisme dalam konteks pendidikan memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi atau fisik. Pengetahuan yang didapat atas dasar penginderaan pancaindra selalu tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai itu bersifat permanen. Filsafat ini percaya pada kebijaksanaan abstrak dan terkait langsung dengan pandangan atas realitas dunia itu ada dalam pikiran seseorang. 3. Realisme Filsafat realisme memandang realitas secara dualitik. Hakekat realitas ialah terdiri atas dunia nyata atau fisik. Realisme percaya bahwa kebenaran adalah apa yang dirasakan, dapat diamati, dan kebaikan yang ditemukan dalam hukum alam yang teratur. 4. Esensialisme Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teorotik (liberal Art) atau bahan ajar esensial. Filsafat pendidikan Esensialisme bertitik tolak sari kebenaran yang telah terbukti beradab-adab lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah suatu kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran yang esensial itu ialah kebudayan klasik yang muncul pada zaman romawi yang menggunakan buku-buku klasik yang ditulis dengan bahasa latin. 5. Pragmatisme dan Progesivisme Pragmatisme adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional. 6. Eksistensialisme Eksistensialisme percaya pada interpretasi pribadi tentang dunia. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa individu mampu mendefinisikan realitas, kebenaran dan kebaikan. Eksistensialisme dalam arti kuas adalah suatu filsafat abad ke-20 yang berpusat pada analisis mengenai keberadaan dan cara manusia menemukan diri mereka yang ada di dunia. Secara sederhana eksistensialisme adalah filsafat yang peduli dengan tanggung jawab untuk mencari identitas diri dan arti hidup melalui kehendak bebas, pilihan, dan pribadi. 2.1.2 Landasan Sosiologis 1. Pengertian Landasan Sosiologis Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik masayarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan antara lain: 1. Hubungan system pendidikan dengan aspek masyarakat lain. 2. Hubungan kemanusiaan 3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya. 4. Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya. Sosiologi mempunyai ciri-cirisebagai uraian berikut: 1. Empiris, adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu. Sebab ia bersumber dan diciptakan dari kenyataan yang terjadi dilapangan. 2. Teoretis, adalah peningkatan fase penciptaan tadi yang menjadi salah satu bentuk budaya yang bisa disimpan dalam waktu yang lama. 3. Komulatif, sebagai akibat dari penciptaan terus-menerus sebagai konsekuensi dari terjadinya perubahan di masyarakat, yang membuet teori-teori itu berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik. 4. Nonetis, karena teori itu menceritakan apa adanya tentang masyarakat beserta individu-individu didalamnya, tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk. 2. Masyarakat Indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuh kembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran) 2.1.3 Landasan Kultural 1. Pengertian tentang Landasan Kultural Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud: 1) Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya. 2) Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan 3) Fisik yakni benda hasil karya manusia. Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau dikembangkan melalui pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan. 2. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-ikaan. 2.1.4 Landasan Psikologis 1.Pengertian landasan psikologis Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan anak. Pemahaman terhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan. 2. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara efektif dan efisien. 2.1.5 Landasan Ilmiah dan Teknologis 1. Pengertian landasan IPTEK Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsi teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. 2. Perkembangan IPTEK sebagai landasan pendidikan Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar seyogyanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi masyarakat. 2.1.6 Landasan Historis (Sejarah) atau Landasan Geografis Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapat didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah mencakup segala kejadian dalam alam ini, termasuk hal-hal yang dikembangkan oleh budi daya manusia. Demikianlah ada sejarah candi, sejarah fosil, sejarah batu-batuan, sejarah perkembangan benua dan pulau, sejarah politik, sejarah ilmu, sejarah pendidikan, dan sebagainya. 2.1.7 Landasan Ekonomis Pada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagai besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi dibanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar. Tidak banyak orang mementingkan peningkatan spiritual. Sebagian terbesar dari mereka ingin hidup enak dalam arti jasmaniah. 2.1.8 Profesionalisasi Pendidik Pendidik mempunyai dua arti, ialah arti yang luas dan arti yang sempit. Pendidik dalam arti luas adalah semua orang yang berkewajiban membina anak-anak. Dalam hal ini, orang-orang yang berkewajiban membina anak secara alamiah adalah orang tua mereka masing-masing, warga masyarakat, dan tokoh-tokohnya. Sementara itu pendidik dalam arti sempit adalah orang-orang yang disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru dan dosen. 2.1.9 Landasan Hukum Kata landasan dalam hukum berarti melandasi atau mendasari atau titik tolak. Negara Republik Indonesia mempunyai berbagai peraturan perundang-undangan yang bertingkat, dan hukum yang paling tinggi adalah Undang-Undang. Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005, dan Implikasi Konsep Pendidikan. 2.1.10 Landasan Agama Landasan Agama yang dimaksudkan adalah pembenaran dari agama atas proses pendidikan yang di tuangkan dalam kitab suci berupa ayat-ayat, ataupun hadits nabi. Dalam konteks ini kami akan lebih condong ke agama islam. Firman Allah S.W.T yang berkaitan tentang pendidikan diantaranya dalam surat Ali Imron ayat 104, yang artinya: “Hendaklah ada diantara kamu suatu golongan yang menyeru manusia kepada yang ma'ruf dan melarangnya dari yang munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung”. Jelas diterangkan pada Ayat di atas bahwa yang boleh diajarkan adalah suatu “yang ma'ruf”, yaitu suatu yang baik, benar, membawa manfaat, dan tidak bertentangan dengan nash-nash syar'i. Adapun hadits-hadits Rosulullah S.A.W yang berkenaan tentang pendidikan sangat banyak jumlahnya. Di antaranya adalahyang artinya: “Tuntutlah (kalian) ilmu walau sampai ke negeri China”, “Tuntutlah (kalian) ilmu dari buaian ibu hingga liang kubur”, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an”. Dan ”Satu orang yang 'alim (berilmu) lebih baik daripada seribu orang yang rajin beribadah (namun bodoh)”. 2.2 Asas-asas Pokok Pendidikan Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan asas Kemandirian dalam belajar. Namun ada dua asas-asas utama yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan, yakni: Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan Asas Tut Wuri Handayani. 1. Asas Tut Wuri Handayani Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun Karso. Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu: Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh) Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat) Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan) 2. Asas Belajar Sepanjang Hayat Asas belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi vertikal dan horisontal. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan. Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah. 3. Asas Kemandirian dalam Belajar Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk ulur tangan bila diperlukan. Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). 2.3 Penerapan Asas-Asas Pendidikan Sebagaimana telah dibicarakan dalam bahasan terdahulu ada dua asas-asas utama yang menjadi acuan pelaksanaan pendidikan, yakni: Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan Asas Tut Wuri Handayani. Untuk member gambaran bagaimana penerapan asas-asas tersebut di atas berturut-turut akan dibicarakan: keadaan yang ditemui sekarang, permasalahan yang ada, dan pengembangan penerapan asas-asas pendidikan. 1. Keadaan yang Ditemui Sekarang Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang: 1. usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkatan. Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dapat ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal; berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi. 2. usaha pemerintah dalam pengadaan dan pembinaan guru dan tenaga kependidikan pada semua jalur, jenis, dan jenjang agar mereka dapat melaksanakan tugasnya secara proporsional. Dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pendidikan di seluruh tanah air. Pembinaan guru dan tenaga guru dilaksanakan baik didalam negeri maupun diluar negeri. 3. usaha pembaharuan kurikulum dan pengembangan kurikulum dan isi pendidikan agar mampu memenuhi tantangan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas melalui pendidikan. 4. usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin meningkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana pelatihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani. 5. pengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi berbagai program pendidikan masyarakat yang bertujuan untuk: meningkatkan sumber penghasilan keluarga secara layak dan hidup bermasyarakat secara berbudaya melalui berbagai cara belajar, dan menunjang tercapainya tujuan pendidikan manusia seutuhnya. 6. usaha pengadaan berbagai program pembinaan generasi muda: kepemimpinan dan ketrampilan, kesegaran jasmani dan daya kreasi, sikap patriotisme dan idealisme, kesadaran berbangsa dan bernegara, kepribadian dan budi luhur. 7. usaha pengadaan berbagai program pembinaan keolahragaan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anggota masyarakat untuk melakukan berbagai macam kegiatan olahraga untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran serta prestasi di bidang olahraga. 8. usaha pengadaan berbagai program peningkatan peran wanita dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan keluarga sehat, sejahtera dan bahagia; peningkatan ilmu pngetahuan dan teknologi, ketrampilan serta ketahanan mental. Sesuai dengan uraian di atas, maka secara singkat pemerintah secara lintas sektoral telah mengupayakan usaha-usaha untuk menjawab tantangan asas pendidikan sepanjang hayat dengan cara pengadaan sarana dan prasarana, kesempatan serta sumber daya manusia yang menunjang.Dalam kaitan penerapan asa Tut Wuri Handayani, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang ditemui sekarang, yakni: (1) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan yang diminatinya di sema jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan oleh pemerintah sesuai peran dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik bertanggung jawab atas pendidikannya sendiri, (2) peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan kejuruan yang diminatinya agar dapat mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan kerja bidang tertentu yang diinginkannya, (3) peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya, (4) peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik atau mental memperoleh kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat yang disandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri, (5) peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang beragam dari potensi dibawah normal sampai jauh diatas normal. 2. Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan Kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak harus dipertimbangkan dengan kebijaksanaan pemerataan pendidikan. Karena peningkatan kualitas pendidikan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan bertujuan membangun sumber daya manusia yang mutunya sejajar dengan mutu sumber daya manusia negara lain. Pemerintah mengusahakan berbagai cara dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, antara lain: (1) Pembinaan guru dan tenaga pendidikan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan, (2) Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, (3) Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa, (4) Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan budaya bangsa. Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan: dalam menghadapi masalah peningkatan sumber daya manusia sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pemerintah telah dan sedang mengupayakan peningkatan: mutu guru dan tenaga kependidikan, mutu sarana dan prasarana pendidikan, mutu kurikulum dan isi kurikulum sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan nilai-nilai budaya bangsa. 3. Masalah Peningkatan Relevansi Pendidikan Kebijaksanaan peningkatan relevansi pendidikan mengacu pada keterkaitannya dengan: ke-bhineka tunggal ika-an masyarakat, letak geografi Indonesia yang luas, dan pembangunan manusia Indonesia yang multidimensional. Pemerintah telah dan sedang mengusahakan peningkatan relevansi penyelenggaraan pendidikan yang efektif dan efisien: (1) meningkatkan kemudahan dalam komunikasi informasi antara pusat–daerah, daerah–daerah, agar arus komunikasi informasi pembaharuan pendidikan berjalan lancar, (2) desiminasi–inovasi pendidikan: kelembagaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara terpadu, dan (3) peningkatan kegiatan penelitian untuk memberi masukan dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan. Sesuai dengan uraian diatas secara singkat dapat dikemukakan dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan, pemerintaha melakukan upaya: (1) usaha menemukan cara baru dan pemanfaatan teknologi pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam, (2) usaha pemanfaatan hasil penelitian pendidikan bagi peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan (3) usaha pengadaan ruang belajar, ruang khusus (bengkel kerja, konseling, pertemuan, dan sebagainya) yang menunjang kegiatan pembelajaran. BAB 3 PENUTUP KESIMPULAN Landasan pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya di negara kita Indonesia, agar pendidikan yang sedang berlangsungdi negara kita ini mempunyai pondasi atau pijakan yang sangat kuat karena pendidikan di setiap negara tidak sama. Untuk negara kita diperlukan landasan pendidikan berupa landasan filosofis pendidikan, landasan sosiologis, landasan cultural, landasan psikologis, landasan ilmiah dan teknologis, landasan historis dan geografis, landasan ekonomis, profesionalisasi pendidik, landasan hukum dan landasan agama. Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusus di Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah Asas Tut Wuri Handayani, Asas Belajar Sepanjang Hayat, dan Asas Kemandirian dalam Belajar. Dengan adanya landasan-landasan dan asas-asas pendidikan diharapkan berimplikasi sehingga menuju tujuan utama pendidikan yaitu membentuk manusia seutuhnya yang pancasilais, dimotori oleh pembangunan afeksi. Tujuan khusus ini hanya bisa ditangani dengan ilmu pendidikan bercorak Indonesia sesuai dengan kondisi Indonesia, dan dengan penyelenggaraan pendidikan yang memakai konsep system.

Lupa, Kejenuhan dan Kesulitan dalam Belajar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditujukan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang berkategori “di luar rata-rata” (sangat pintar dan sangat bodoh) itu tidak mendapatkan kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini maka timbullah apa yang disebut kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Selain itu kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan. B. Rumusan Masalah 1. Jelaskan pengertian dari lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar! 2. Sebutkan faktor-faktor penyebab lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar! 3. Sebutkan gejala-gejala kesulitan dalam belajar! 4. Cara apa saja untuk mengatasi lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar? C. Tujuan 1. Menjelaskan Pengertian lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar. 2. Menyebutkan faktor-faktor penyebab lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar. 3. Mengetahui gajala-gejala kesulitan dalam belajar. 4. Mengetahui cara apa saja untuk mengatasi lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar. BAB II PEMBAHASAN A. Lupa dalam Belajar 1. Pengertian Lupa dalam Belajar Lupa ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Rebber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal dan mengingat sesuatu yang telah dipelajari atau dialami. Dengan demikian, lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita. Orang lebih cenderung untuk menerima bahwa lupa itu tergantung kepada: a. Apa yang diamati, b. Bagaimana situasi dan proses pengamatan itu berlangsung dan, c. Bagaimana situasi ketika berlangsungnya ingatan itu. 2. Faktor-faktor Penyebab Lupa dalam Belajar a. Apa yang dialami itu tidak pernah digunakan lagi, atau tidak pernah dilatih/diingat lagi. b. Adanya hambatan-hambatan yang terjadi karena gejala-gejala/isi jiwa yang lain. c. Selalu mengalami tekanan-tekanan atau depresi. d. Adanya konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. e. Adanya perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat. f. Adanya perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar. g. Adanya perubahan urat syaraf otak. 3. Cara Mengatasi Lupa dalam Belajar a. Overlearning Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi tertentu. Overleaning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respons tersebut dengan cara diluar kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain pembacaan teks Pancasila pada setiap hari Senin dan Sabtu memungkinkan ingatan siswa terhadap materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) lebih kuat. b. Ekstra study time Ekstra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajaran atau penambahan frekunsi aktifitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti siswa menambah jam belajar, misalnya dari satu jam menjadi satu setengah jam. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa menambahkan kekerapan materi belajar tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua hari sehari. Kiat ini dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan. c. Mnemonic device Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga disebut mne-monic itu berarti kiat khusus yang dijadikan ‘’alat pengait’’ mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa. Muslihat mnemonik ini banyak ragamnya, tetapi yang paling menonjol adalah sebagaimana terurai di bawah ini. • Rima • Singkatan • Sistem Kata Pasak (Peg Word System) • Metode losai (Method of Loci) • Sistem Kata Kunci (Key Word System) B. Kejenuhan dalam Belajar 1. Pengertian Kejenuhan dalam Belajar Secara harfiah, arti kejenuhan ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga berarti jemu atau bosan. Dalam belajar, selain siswa sering mengalami kelupaan, ia sering juga mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar yang dalam psikologi lazim disebut learning plateau atau plateau saja. Peristiwa jenuh ini kalau dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar (kejenuhan belajar) dapat membuat siswa tersebut merasa telah membubadzirkan usahanya. Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil. Seorang siswa yang megalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dengan rentang waktu yang tertentu saja, misalnya seminggu. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu yang membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam satu periode belajar tertentu. Sehingga siswa yang dalam keadaan jenuh tidak akan bisa menerima pelajaran dengan maksimal. 2. Faktor-faktor Penyebab Kejenuhan dalam Belajar Pada umumnya penyebab kejenuhan adalah kelelahan yang melanda siswa, sehingga menyebabkan munculnya perasaan bosan pada siswa yang bersangkutan. Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani (fisik) termasuk kelelahan indera juga dan kelelahan rohani (psikis). a. Kelelahan Jasmani (Fisik) Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak/kurang lancar pada bagian tertentu. b. Kelelahan Rohani Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuhan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah otak kehabisan daya untuk bekerja. Kelelahan rohani dapat terjadi terus menerus memikirkan masalah yang dianggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu sama/konstan tanpa ada variasi, dan mengerjakan sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatiannya serta berada di tengah-tengah situasi kompetitif yang ketat dan menuntut lebih banyak kerja intelek yang berat. 3. Cara Mengatasi Kejenuhan dalam Belajar a. Tidur, b. Istirahat, c. Membuat variasi baru dalam belajar, d. Rekreasi, e. Mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, f. Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya, g. Siswa harus berbuat nyata (tidak menyerah/tinggal diam) dengan mencoba belar dan belajar lagi, dan h. Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif. C. Kesulitan dalam Belajar 1. Pengertian Kesulitan dalam Belajar Menurut Drs. H. M. Alisuf Sabri (2010:88), kesulitan belajar diartikan sebagai kesukaran siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran di sekolah. Jadi kesulitan belajar yang dihadapi siswa ini terjadi pada waktu mengikuti pelajaran yang disampaikan atau ditugaskan oleh guru. Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya: a. Learning Disorder (kekacauan belajar) adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. b. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indera, atau gangguan psikologis lainnya. c. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. d. Slow Learner (lambat belajar) adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. e. Learning Disabilities (ketidakmampuan belajar) mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. 2. Gejala-gejala Kesulitan dalam Belajar Gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk. Ia dapat muncul dalam bentuk perilaku yang menyimpang atau menurunnya hasil belajar. Perilaku yang menyimpang juga muncul dalam berbagai bentuk seperti: kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, suka mengganggu teman, sukar memusatkan perhatian, sering termenung, hiperaktif, sering membolos. Meskipun perilaku menyimpang dapat merupakan indikasi adanya kesulitan belajar, namun tidak semua perilaku menyimpang dapat disamakan dengan munculnya kesulitan belajar. Menurunnya hasil belajar merupakan gejala kesulitan belajar yang paling jelas. Menurunnya hasil belajar ini dapat dilihat dari rendahnya hasil latihan, tugas rumah serta ulangan yang ditandai dengan diperolehnya nilai-nilai yang rendah. Nilai-nilai rendah yang dicapai siswa inilah yang dapat dijadikan indikator yang kuat tentang adanya kesulitan belajar yang dihadapi siswa. 3. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan dalam Belajar a. Faktor Intern Siswa Yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri. Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, diantaranya: • Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa; • Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap; • Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga). b. Faktor Ekstern Siswa Yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa, diantaranya: • Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga. • Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh, dan teman sepermainan yang nakal. • Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah. Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada juga faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar pada siswa, yaitu faktor khusus seperti sindrom psikologis berupa “learning disability” (ketidakmampuan belajar). Sindrom yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu. a. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca. b. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis. c. Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika. Akan tetapi, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask, 1985: Reber, 1988). 4. Cara Mengatasi Kesulitan dalam Belajar Usaha untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa harus dilakukan dengan mengadakan diagnosis dan remedies yaitu melalui proses pemeriksaan terhadap gejala kesulitan belajar yang terjadi dan diakhiri dengan mengadakan remedies atau perbaikan sehingga masalah kesulitan belajar siswa benar-benar dapat diatasi. Pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar tersebut harus berlangsung secara sistematis dan terarah melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. Mengidentifikasi Adanya Kesulitan Belajar Pada langkah pertama ini guru harus melakukan identifikasi (upaya mengenali gejala dengan cermat) terhadap fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda siswa tersebut. Menetapkan untuk memastikan adanya kesulitan belajar tersebut tidak boleh berdasarkan naluri belaka, tetapi harus berdasarkan pada pengetahuan dan pengalaman. Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai “diagnostik” kesulitan belajar. Banyak langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener&Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut: • Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran. • Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar. • Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar. • Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa. • Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar. b. Menelaah/Menetapkan Status Siswa Pada langkah kedua ini guru akan menelaah/memeriksa setiap siswa yang mengalami kesulitan belajar, tujuannya adalah untuk menetapkan jenis atau bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh setiap siswa. Untuk memastikan jenis atau bentuk kesulitan masing-masing siswa dapat dilakukan dengan dua cara: • Dengan membandingkan hasil pencapaian/penguasaan TIK (Tujuan Instruksional Khusus) hasil belajar siswa dengan TIK yang ditargetkan untuk dicapai oleh siswa. Dengan cara ini dapat ditetapkan bagian-bagian mana atau hal-hal apa saja dari konsep atau materi pelajaran yang disampaikan guru yang sulit dikuasai oleh masing-masing siswa. • Dengan menetapkan bentuk kesulitan mereka dalam proses belajarnya; apakah sumber kesulitan tersebut terjadi pada waktu menerima atau pada waktu menyerap pelajaran. c. Memperhatikan Sebab Terjadinya Kesulitan Pada tahap ketiga ini, guru harus berupaya untuk memperkirakan sebab timbulnya kesulitan belajar tersebut, yaitu dengan menggunakan alat diagnostik kesulitan belajar. Alat tersebut dapat berupa tes diagnostik dan tes-tes untuk mengukur kemampuan intelegensi, kemampuan mengingat, kemampuan alat indera dan sebagainya yang erat kaitannya dengan proses belajar. Berdasarkan informasi dari hasil tes tersebut dapat ditetapkan penebab kesulitan belajar, apakah karena alat inderanya kurang baik; ingatannya lemah; kecerdasannya kurang; kuranmg matang untuk belajar karena kurang menguasai konsep dasar yang dipelajari; kurang motivasi dan sebagainya. d. Mengadakan Perbaikan Pada tahap keempat ini, guru dapat bertindak untuk mengadakan perbaikan guna mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Strategi pelaksanaan yang ditempuh guru dalam mengadakan perbaikan ini harus dilakukan melalui pendekatan psikologi didaktis, yaitu, Pertama, siswa yang akan diperbaiki sudah menyadari faktor kesulitan/kekurangan mereka. Kedua, mereka yakin kesulitan/kekurangan mereka dapat mereka atasi. Ketiga, siswa dibimbing untuk mengadakan perbaikan sesuai dengan sebab dan kondisi kesulitan yang mereka alami. BAB III PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran sering terjadi berbagai gejala. Diantaranya lupa, kejenuhan dan kesulitan dalam belajar yang telah dijelaskan secara terperinci diatas.Untuk itu sangatlah penting bagi para pengajar memperhatikan hal-hal tersebut. Dan dalam semua hal tersebut tentu akan dapat ditangani menggunakan solusi-solusi yang telah dijelaskan. Para pengajar harus mampu memahami keadaan siswa, agar tercapainya tujuan dari pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Purwanto, M. Ngalim, Drs., Psikologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta. Karina-arie.blogspot.com/2012/05/psikologi-pendidikan.html Mnurussobach.blogspot.com/2012/06/mengatasi-kejenuhan-dalam-belajar.html

Pendidikan Sepanjang Hayat

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan peril;aku manusia normal dan pembelajaran menjadi intinya. Istilah pendidikan dengan istilah belajar sering dikacaukan, sehingga muncullah kata belajar sepanjang hayat (life long learning) atau pendidikan sepanjang hayat (life long education). Pendidikan dimaknai sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya, sedangkan belajar dimaknai sebagai proses perubahan perilaku sebagai hasil dari perbuatan belajar. Sesungguhnya, pembelajaran secara umum juga bermakna proses pembudayaan dan pemberdayaan siswa dengan gamitan pengembangan kognitif dan emosional untuk memperoleh, meningkatkan atau mengubah pengetahuan, keterampilan, nilai serta pandangan tentang dunia dan lingkungan. Tujuan pendidikan secara luas antara lain adalah untuk meningkatkan kecerdasan, membentuk manusia yang berkualitas, terampil, mandiri, inovatif, dan dapat meningkatkan kecerdasan, membentuk manusia yang berkualitas, terampil, mandiri, inovatif, dan dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Oleh karena itu, pendidikan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan sebagai makhluk individu, sosial dan beragama. 1.2. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian pendidikan sepanjang hayat? 2. Bagaimana tahap proses pendidikan sepanjang hayat? 3. Bagaimana membentuk kemandirian melalui pendidikan sepanjang hayat? 4. Apa saja konteks pendidikan sepanjang hayat? 5. Apa saja pilar pembelajar sepanjang hayat? 1.3. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui pengertian pendidikan sepanjang hayat. 2. Untuk mengetahui tahap proses pendidikan sepanjang hayat. 3. Untuk mengetahui membentuk kemandirian melalui pendidikan sepanjang hayat. 4. Untuk mengetahui konteks pendidikan sepanjang hayat. 5. Untuk mengetahui pilar pembelajar sepanjang hayat. BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Pendidikan Sepanjang Hayat Pendidikan sepanjang hayat (life long education) adalah sebuah system pendidikan yang dilakukan oleh manusia ketika lahir sampai meninggal dunia. Melalui pendidikan sepanjang hayat, manusia selalu belajar melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau pengalaman yang telah dialami. Konsep pendidikan sepanjang hayat tidak mengenal batas usia, semua manusia baik yang masih kecil hingga lanjut usia tetap bisa menjadi peserta didik, karena cara belajar sepanjang hayat dapat dilakukan dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun. 2.2. Tahap Proses Pendidikan Sepanjang Hayat Tahap belajar manusia pada dasarnya terdiri dari dua bagian. Bagian yang pertama ialah proses belajar yang tidak dapat dilihat panca indera, karena proses belajar terjadi dalam pikiran seseorang yang sedang melakukan kegiatan belajar. Proses ini sering disebut dengan proses intern. Bagian yang kedua disebut proses belajar ektern, proses ini dapat menunjukan apakah dalam diri seseorang telah terjadi proses belajar yang ditandai dengan adanya perubahan kea rah yang lebih baik. Menurut Suprijianto (2007) proses belajar yang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar berlangsung melalui enam tahapan, yaitu: a. Motivasi. b. Perhatian pada pelajaran. c. Menerima dan mengingat. d. Reproduksi. e. Generalisasi. f. Menerapkan apa yang telah dikerjakan serta umpan balik. 2.3. Membentuk Kemandirian Melalui Pendidikan Sepanjang Hayat Dalam pengembangan sikap dan perilaku mandiri, pendidikan luar sekolah dapat berperan untuk membantu peserta didik sehingga ia dapat menyadari dan mengakui potensi dan kemampuan dirinya. Peserta didik perlu dibantu untuk mampu berdialog dengan dirinya dan lingkungannya. Program-program pendidikan non formal diarahkan untuk memotivasi peserta didik dalam upaya mengaktualisasi potensi diri, berpikir, dan berbuat positif terhadap lingkungan, serta mencapai kepuasan diri dan bermakna bagi lingkungan. 2.4. Konteks Pendidikan Sepanjang Hayat Pendidikan di rumah (home schooling), mencakup belajar untuk belajar atau mengembangkan pola pembelajaran informal. Pendidikan orang dewasa (adult education) atau akuisisi “kualifikasi” formal atau belajar di luar struktur persekolahan, bahkan mungkin sambil rekreasi. Pendidikan berkelanjutan (continuing education), yang sering menjelaskan program pendidikan atau pelatihan berkelanjutan ketika telah menekuni profesi atau menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu di perguruan tinggi. Pengetahuan pekerjaan (knowledge work), yang meliputi pengembangan professional dan pelatihan di dalam pekerjaan. Lingkungan belajar pribadi (personal learning environments) atau pembelajaran yang “diarahkan” secara mandiri dengan menggunakan berbagai sumber dan alat-alat, termasuk aplikasi online. 2.5. Pilar Pembelajar Sepanjang Hayat Manusia pembelajar adalah orang-orang yang menjadikan kegiatan belajar, sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya. Enam pilar utama yang mutlak ada untuk menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat, yaitu: a. Rasa ingin tahu. Inilah merupakan awal mula dari seseorang untuk menjadi manusia berpengetahuan. Manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi adalah pembelajar sejati. b. Optimisme. Inilah modal dasar orang untuk tidak mudah menyerah dengan aneka keadaan. c. Keikhlasan. Orang-orang yang ikhlas nyaris tidak mengenal lelah. Dia selalu bergairah pada setiap keadaan. d. Konsistensi. Begitu banyak orang bekerja dalam format “keras kerak, yang tersiram air sedikit saja menjadi lembek”, “tergoda dengan hal baru lalu meninggalkan keputusan yang telah dibuat dan tengah dicoba dijalankan”. e. Pandangan Visioner. Pandangan jauh ke depan, melebihi batas-batas pemikiran orang kebanyakan. Mereka yan termasuk kelompok ini jarang sekali tergoda untuk melakukan apa saja demi hasil yang instan, mengejar target jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. f. Tuntutan Pekerjaan. Pekerjaan jenis tertentu menuntut pelakunya terus belajar dan berlatih mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan teknologi, agar tidak ketinggalan zaman. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Belajar seumur hidup atau belajar sepanjang hayat atau pendidikan sepanjang hayat merupakan aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh individu atau kelompok secara “seumur hidup”, “suka rela”, dan “memotivasi diri” untuk terus menerus mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, baik untuk alas an pribadi maupun professional. Karena itu, pendidikan sepanjang hayat tidak hanya meningkatkan inklusi sosial, kewarganegaraan aktif dan pengembangan pribadi, melainkan juga daya saing dan kerja. 3.2. Saran Untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, individu atau kelompok harus mampu belajar untuk belajar. Di banyak dunia kerja, belajar sepanjang hayat ini menjadi keharusan dalam rangka menyesuaikan diri dengan persyaratan professional yang dibutuhkan. Untuk itu, buatlah aneka jenis profesi yang wajib melakukan pembelajaran sepanjang hayat, seperti: mentor, pelatih, penilai, konsultan, manajer proyek, desainer kurikulum dan penasihat. DAFTAR PUSTAKA Danim, Sudarwan. 2010. Pengantar Kependidikan. Bandung: Alfabeta. Pratiwi, Rahayu Kusuma. (2012). Makalah Pndidikan Sepanjang Hayat dan 4 Pilar Pendidikan UNESCO. [Online]. Tersedia: rahayukusumapratiwi.blospot.com/2012/11/makalah-aliran-pendidikan.html?m=1.

Selasa, 15 Juli 2014

SQ3R (SURTABAKU), CATU, DAN KWLH



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam perkembangan ilmu, teknologi, dan seni (IPTEKS) yang sangat cepat seperti sekarang ini terasa sekali bahwa kegiatan membaca boleh dikatakan tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Berbagai informasi sebagian besar disampaikan melalui media cetak, dan bahkan yang melalui lisan pun bisa dilengkapi dengan tulisan, atau sebaliknya. Oleh karena itu, di negara kita terdapat kemungkinan suatu saat kegiatan membaca akan menjadi kebutuhan hidup sehari-hari seperti terdapat di negara-negara maju. Di sisi lain, keterbatasan waktu selalu dihadapi oleh manusia itu sendiri. Hal itu didasarkan pada adanya kenyataan arus informasi yang berjalan begitu cepat, kesibukan manusia yang sangat banyak, sehingga waktu yang tersedia untuk membaca sangat terbatas. Padahal, kegiatan membaca untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu, teknologi, dan seni tersebut mutlak diperlukan.
Sebenarnya, kini manusia dihadapkan pada persoalan bagaimana mengatasi keterbatasan waktu, dan dapat membaca dalam waktu yang relatif singkat, tetapi dapat memperoleh informasi yang maksimal. Dengan perkataan lain, persoalannya adalah bagaimana melakukan kegiatan membaca secara efektif sehingga waktunya tidak banyak terbuang secara mubazir. Untuk itu salah satu cara yang dapat ditempuh adalah berlatih membaca secara kritis untuk meningkatkan diri.
Bacaan merupakan salah satu penampungan kata-kata bermakna penulisnya. Bacaan merupakan sumber informasi yang tidak akan pernah kering dan mampu mengantarkan pembacanya menjadi insan cendikia. Oleh karenanya, untuk menikmati secara cermat materi yang ada diantara dua sampul buku, lembaran surat kabar, majalah, atau media massa lainnya diperlukan keterampilan membaca, (Slamet, 2007 : 66). Keterampilan membaca pada hakikatnya perlu dimiliki oleh setiap orang, terlebih lagi oleh para mahasiswa, guru, dan lain-lainnya yang dalam kesehariannya senantiasa bergulat dengan buku.
Membaca bukanlah sekadar menyuarakan lambang-lambang tertulis tanpa mempersoalkan apakah rangkaian kata atau kalimat yang dilafalkan tersebut dipahami atau tidak, melainkan lebih dari itu, ( Slamet, 2007 : 66). Membaca adalah suatu proses yang biasa dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis, (HG Tarigan, dalam Slamet, 2007 : 67).

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Teknik Membaca SQ3R (SURTABAKU)?
2.      Apa saja tujuan dari Teknik Membaca SQ3R (SURTABAKU)?
3.      Apa yang dimaksud dengan Teknik Membaca KWLH?
4.      Apa saja tujuan dari Teknik Membaca KWLH?
5.      Apa yang dimaksud dengan Teknik Membaca CATU?
6.      Apa saja tujuan dari Teknik Membaca CATU?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari Teknik Membaca SURTABAKU, KWLH, dan CATU.
2.      Untuk mengetahui tujuan-tujuan dari Teknik Membaca SURTABAKU, KWLH, dan CATU.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  SURTABAKU
2.1.1 Pengertian Teknik Membaca SURTABAKU
Surtabaku merupakan salah satu metode membaca yang terdiri atas tahap-tahap sesuai urutan akronim surtabaku, yakni:
1.      Sur adalah kependekan dari survei,
2.      Ta adalah kependekan dari tanya,
3.      Ba adalah kependekan dari baca,
4.      K adalah kependekan dari katakan, dan
5.      U adalah kependekan dari ulang.
 Akronim ini dibuat oleh Profesor Daulat P. Tampubolon, Ph.D. Teknik ini cocok digunakan untuk membaca buku ilmiah, buku pelajaran, dan kamus.

2.1.2  Tujuan Teknik Membaca SURTABAKU
1.      Untuk mengetahui materi yang kita hadapi dalam bahan bacaan itu sesuai dengan keperluan kita atau tidak dari kegiatan survei.
2.      Untuk mendapatkan pemahaman komprehensif, bukan ingatan. Pemahaman komprehensif akan bertahan atau tersimpan lebih lama di otak kita daripada ingatan tentang materi yang kita baca.
3.      Untuk lebih fokus untuk mendapatkan sejumlah informasi berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang kita buat pada tahap tanya. Dengan kata lain, kita akan lebih konsentrasi terhadap bahan bacaan yang sedang kita baca.



2.2  CATU
2.2.1 Pengertian Teknik Membaca CATU
Metode “catu” sesungguhnya adalah metode yang biasa dipakai di dalam membaca artikel, bahan kuliah, dan bacaan ilmiah lainnya. Tetapi metode ini dapat juga dipakai untuk membaca bab atau seksi buku. Dalam membaca dengan metode ini yang pertama dilakukan ialah menentukan informasi fokus yang berupa pikiran pokok.
Kemudian dicarilah (CA) butir-butir penting dari informasi fokus dimaksud dalam bacaan bersangkutan. Sesudah butir-butir penting yang diperlukan diperoleh dikatakan atau dituliskanlah butir-butir kembali dengan kata-kata sendiri (T) secara lugas. Akhirnya pengertian yang telah dirumuskan itu dites atau diuji (U) benar tidaknya dengan cara mencobakannya pada masalah lain yang bersamaan. Untuk memantapkan pengertian baik juga dicoba mencari contoh-contoh keadaan yg dapat menggambarkan pengertian tersebut. Akhirnya dari pengujian atau contoh-contoh itu dapat dilihat kelemahan dan kekuatan pengertian yang dimaksud. Dengan demikian pemahaman akan isi bacaan akan lebih mantap dan mendalam.

2.2.2 Tujuan Teknik Membaca CATU
1.      Untuk mengetahui informasi yang diinginkan.
2.      Untuk membandingkan informasi yang satu dengan informasi lainnya.
3.      Untuk menguji informasi yang telah ditemukan.


2.3  KWLH

2.3.1 Pengertian Teknik Membaca KWLH
Dalam kegiatan pembelajaran yang mengaitkan pengetahuan yang tersedia dengan apa yang dibaca akan melibatkan teknik membaca yang sering disebut teknik membaca KWLH. KWLH merupakan singkatan dari:
1.      K (know) yang berarti apa yang telah diketahui atau pengetahuan apa yang dimiliki  seoarng pembaca sebelum ia membaca suatu bacaan. Misalnya seperti seorang  murid telah tahu mengetahui suatu perkara.
2.      W (want) yang berarti apa yang hendak diketahui oleh seorang pembaca sebelum membaca suatu bacaan.
3.      L (learned) yang berarti apa yang telah diketahui atau diperoleh seorang pembaca setelah melakukan kegiatan membaca.
4.      H (how) yang berarti bagaimana cara seorang pembaca untuk mendapatkan informasi  tambahan  yang berkaitan dengan kegiatan pembacaan selanjutnya. Seperti informasi yang diperoleh melalui media tv, internet atau sumber-sumber lain yang sejenis (untuk membaca seterusnya).
Apa yang disampaikan dari penjelasan di atas merupakan suatu teknik membaca yang bersifat kritis di mana seorang pembaca harus memperhatikan hal sebagai berikut:
a.       Mengingat kembali pengetahuan atau informasi yang telah diketahui dan dimiliki sebelum melakukan suatu kegiatan membaca.
b.      Membayangkan atau menentukan hal apa yang ingin diketahui atau dicari pada suatu bacaan yang ingin dibaca.
c.       Melakukan pembacaan terhadap bacaan yang telah dipilih sebelumnya.
d.      Mengetahui apa yang telah diperoleh atau didapat setelah melakukan kegiatan  membaca pada suatu bacaan.
e.       Menentukan hal apa lagi yang perlu diperoleh atau dicari terkait dengan pembacaan selanjutnya.
Melalui teknik pembacaan KWLH ini akan memperbolehkan seorang pembaca untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
a.       Mengkaitkan atau menghubungkan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pembaca dengan bacaan yang dibaca.
b.      Menentukan apa yang ingin diperoleh oleh seorang pembaca terhadap kegiatan membaca yang ia lakukan.
c.       Menentukan bahan atau informasi apalagi yang perlu diperoleh terkait dengan kegiatan membaca yang akan dilakukan selanjutnya.
Pada konteks pengajaran, pelajar biasanya menggunakan kerangka teknik KWLH sebagai berikut:
a.          Know (K)
Apa yang sudah diketahui?
b.         Want (W)
Apa yang hendak diketahui?
c.          Learned (L)
Apa yang telah dipelajari/diperoleh?
d.         How (H )
Bagaimana cara untuk memperoleh informasi tambahan yang diperlukan?
Teknik ini cocok diterapkan untuk membaca objek bacaan berupa:
1.      Buku pelajaran, seperti buku sintaksis
2.      Artikel
3.      Cerpen

2.3.2        Tujuan Teknik Membaca KWLH
1.      Tujuan teknik KWLH ialah membaca secara kritis.
2.      Mengaitkan pengalaman yang sedia ada dengan perkara yang dibaca.
3.      Mengaitkan minat membaca perkara-perkara yang hendak diketahui.
4.      Mengenal pasti perkara-perkara yang sudah dipelajari dan perkara-perkara tambahan yang perlu diketahui lagi.
5.      Meningkatkan pemahaman pembaca berkenaan sesuatu bahan yang dibaca.


BAB III
PENUTUP


3.1  Keimpulan

Dalam teknik membaca SQ3R (SURTABAKU) menurut Tampubolon yaitu:
a.       Sur adalah kependekan dari survei,
b.      Ta adalah kependekan dari tanya,
c.       Ba adalah kependekan dari baca,
d.      K adalah kependekan dari katakan, dan
e.       U adalah kependekan dari ulang.

Dan teknik membaca CATU sesungguhnya adalah metode yang biasa dipakai di dalam membaca artikel, bahan kuliah, dan bacaan ilmiah lainnya. Tetapi metode ini dapat juga dipakai untuk membaca bab atau seksi buku. Dalam membaca dengan metode ini yang pertama dilakukan ialah menentukan informasi fokus yang berupa pikiran pokok.

Sedangkan KWLH sendiri merupakan singkatan dari Know, Want, Learned, dan How yang merupakan suatu teknik membaca yang bersifat kritis.








DAFTAR PUSTAKA

http://serbaserbibahasadansastraindonesia.blogspot.com/2011/11/teknik-membaca-kwlh.html